Sabtu, 16 Desember 2017

Evaluasi Pendidikan

Evaluasi Pendidikan

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1    Pendahuluan
Dalam kehidupan sehari-hari tanpa disadari sebenarnya kita sering membuat suatu kegiatan evaluasi dan selalu menggunakan prinsip mengukur dan menilai. Namun, banyak orang belum memahami secara tepat arti kata evaluasi, pengukuran, dan penilaian bahkan masih banyak orang yang lebih cenderung mengartikan ketiga kata tersebut dengan suatu pengertian yang sama.
Secara umum orang hanya mengidentikkan kegiatan evaluasi sama dengan menilai, karena aktifitas mengukur biasanya sudah termasuk didalamnya. Pengukuran, penilaian dan evaluasi merupakan kegiatan yang bersifat hierarki. Artinya ketiga kegiatan tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain dan dalam pelaksanaannya harus dilaksanakan secara berurutan.


1.2  Latar belakang Masalah
         Tujuan evaluasi pendidikan  dalam makalah yang kami susun ini, secara general mencoba untuk mengkaji mengenai penilaian,pengukurn serta evaluasi pendidikan. Dalam uraian yang akan kami  bahas dalam makalah ini yaitu; mengenai tujuan pendidikan demi untuk meningkatkan pendidikan kita dalam penilaian
            Sedangkan pembahasan yang ada di dalam makalah ini bersifat ringkas dan praktis, hanya sekedar menyebutkan dan membahas masalah yang sangat penting dan mengkhususkan pada pembahasan mengenai pengertian penilaian,pengukuran serta evaluasi pendidika

1.3 Rumusan Masalah
1.      Apa Pengetian Penilaian?
2.      Apakah Pengukuran?
3.      Apa Evaluasi dalam Pendidikan ?
BAB II
PEMBAHASAN

2.1     Pengertian Pengukuran, Penilaian, dan Evaluasi
Untuk memahami pengertian evaluasi, pengukuran dan penilaian kita dapat memahaminya lewat contoh berikut :
  1. Apabila ada seseorang yang memberikan kepada kita 2 pensil yang berbeda ukuran ,yang satu panjang dan yang satu lebih pendek dan kita diminta untuk memilihnya, maka otomatis kita akan cenderung memilih pensil yang panjang karena akan bisa lebih lama digunakan. Kecuali memang ada kriteria lain sehingga kita memilih sebaliknya.
  2. Peristiwa menjual dan membeli di pasar. Kadang kala sebelum kita membeli durian di pasar, sering kali kita membandingkan terlebih dahulu durian yang ada sebelum membelinya. Biasanya kita akan mencium, melihat bentuknya, jenisnya ataupun tampak tangkai yang ada pada durian tersebut untuk mengetahui durian manakah yang baik dan layak dibeli.
Dari kedua contoh diatas maka dapat kita simpulkan bahwa kita selalu melakukan penilaian sebelum menentukan pilihan untuk memilih suatu objek/benda. Pada contoh pertama kita akan memilih pensil yang lebih panjang dari pada pensil yang pendek karena pensil yang lebih panjang dapat kita gunakan lebih lama. Sedangkan pada contoh yang kedua kita akan menentukan durian mana yang akan kita beli berdasarkan bau, bentuk, jenis, ataupun tampak tangkai dari durian yang dijual tersebut. Sehingga kita dapat memperkirakan mana durian yang manis.
Untuk mengadakan penilaian, kita harus melakukan pengukuran terlebih dahulu. Dalam contoh 1 diatas, jika kita mempunyai pengaris, maka untuk menentukan pensil mana yang lebih panjang maka kita akan mengukur kedua pensil tersebut dengan menggunakan pengaris kemudian kita akan melakukan penilaian dengan membandingkan ukuran panjang dari masing-masing penggaris sehingga pada akhirnya kita dapat mengatakan bahwa “Yang ini panjang” dan “Yang ini pendek” lalu yang panjanglah yang kita ambil.
Dalam contoh yang ke 2, kita memilih durian yang terbaik lewat bau, tampak tangkai, maupun jenisnya. Hal itu juga diawali dengan proses pengukuran dimana kita membanding-bandingkan beberapa durian yang ada sekalipun tidak menggunakan alat ukur yang paten tetapi berdasarkan pengalaman. Barulah kita melakukan penilaian mana durian yang terbaik berdasarkan ukuran yang kita tetapkan yang akan dibeli.
Dari hal ini kita dapat mengetahui bahwa dalam proses penilaian kita menggunakan 3 ukuran, yakni ukuran baku (meter, kilogram, takaran, dan sebagainya), ukuran tidak baku (depa, jengkal, langkah, dan sebagainya) dan ukuran perkiraan yakni berdasarkan pengalaman.
Langkah – langkah mengukur kemudian menilai sesuatu sebelum kita mengambilnya itulah yang dinamakan mengadakan evaluasi yakni mengukur dan menilai. Kita tidak dapat mengadakan evaluasi sebelum melakukan aktivitas mengukur dan menilai.
Berdasarkan contoh diatas dapat kita simpulkan pengertian pengukuran, penilaian, dan evaluasi sebagai berikut :
  • Pengukuran adalah kegiatan membandingkan sesuatu dengan ukuran tertentu dan bersifat kuantitatif.
  • Penilaian adalah kegiatan mengambil keputusan untuk menentukan sesuatu berdasarkan kriteria baik buruk dan bersifat kualitatif. Sedangkan
  • Evaluasi adalah kegiatan yang meliputi pengukuran dan penilaian

2.2    Evaluasi dalam Pendidikan
Secara harafiah evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation yang berarti penilaian atau penaksiran (John M. Echols dan Hasan Shadily: 1983). Menurut Stufflebeam, dkk (1971) mendefinisikan evaluasi sebagai “The process of delineating, obtaining, and providing useful information for judging decision alternatives”. Artinya evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna untuk merumuskan suatu alternatif keputusan.
Evaluasi menurut Kumano (2001) merupakan penilaian terhadap data yang dikumpulkan melalui kegiatan asesmen. Sementara itu menurut Calongesi (1995) evaluasi adalah suatu keputusan tentang nilai berdasarkan hasil pengukuran. Sejalan dengan pengertian tersebut, Zainul dan Nasution (2001) menyatakan bahwa evaluasi dapat dinyatakan sebagai suatu proses pengambilan keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar, baik yang menggunakan instrumen tes maupun non tes.

Evaluasi adalah proses menggambarkan, memperoleh dan menyajikan informasi yang berguna untuk menilai alternatif keputusan. Evaluasi harus bermakna memberikan informasi kepada semua pihak yang terlibat proses pendidikan, yaitu siswa, guru, sekolah, departemen pendidikan nasional dan masyarakat.
Makna evaluasi bagi pihak
pihak  terkait yaitu :
Siswa sebagai informasi sejauh mana telah menguasai pelajaran, membangkitkan motivasi, mengembangkan cara belajar.
Guru sebagai informasi mengenai kompetensi siswa, metode pembelajaran dan materi pelajaran, sebagai umpan balik.
Sekolah Informasi tentang keberhasilan pembelajaran sesuai dengan kebijakan sekolah
Orangtua Informasi kemajuan belajar anaknya, dan untuk masukan kepada sekolah
Diknas Informasi tentang keberhasilan pendidikan sesuai dengan kebijakan departemen DIKNAS
Masyarakat Informasi tentang keberhasilan sekolah dalam
mengelola pembelajaran.





2.3 Tujuan evaluasi pendidikan

Tujuan evaluasi adalah untuk melihat dan mengetahui proses yang terjadi dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran memiliki 3 hal penting yaitu, input, transformasi dan output.  
Input adalah peserta didik yang telah dinilai kemampuannya dan siap menjalani proses pembelajaran. Dengan penilaian ini, ingin diketahui apakah kelak ia akan mampu mengikuti pelajaran dan melaksanakan tugas-tugas yang akan diberikan kepadanya.  
Transformasi adalah segala unsur yang terkait dengan proses pembelajaran yaitu ; guru, media dan bahan belajar, metode pengajaran, sarana penunjang dan sistem administrasi. Sedangkan output adalah capaian yang dihasilkan dari proses pembelajaran.
Secara garis besar dapat dikatakan bahwa evaluasi adalah pemberian nilai terhadap kualitas sesuatu. Selain dari itu, evaluasi juga dapat dipandang sebagai proses merencanakan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif-alternatif keputusan. Dengan demikian, Evaluasi merupakan suatu proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai sejauhmana tujuan-tujuan pengajaran telah dicapai oleh siswa. mengungkapkan bahwa evaluasi adalah serangkaian kegiatan yang ditujukan untuk mengukur keberhasilan program pendidikan.  dalam hal ini lebih meninjau pengertian evaluasi program dalam konteks tujuan yaitu sebagai proses menilai sampai sejauhmana tujuan pendidikan dapat dicapai.
Berdasarkan tujuannya, terdapat pengertian evaluasi sumatif dan evaluasi formatif. Evaluasi formatif dinyatakan sebagai upaya untuk memperoleh feedback perbaikan program, sementara itu evaluasi sumatif merupakan upaya menilai manfaat program dan mengambil keputusan (Lehman, 1990).




2.4 Fungsi evaluasi pendidikan
a. Fungsi selektif

Dengan cara mengadakan penilain guru mempunyai cara untuk mengadakan seleksi atau penilaian terhadap siswanya. Penilaian itu sendiri memiliki beberapa tujuan, antara lain:
 1) Untuk memilih siswa yang dapat diterima di sekolah tertentu
2) Untuk memilih siswa yang dapat naik ke kelas atau tingkat berikutnya.
3) Untuk memilih siswa yang seharusnya mendapat beasiswa
4) Untuk memilih siswa yang sudah berhak meninggalkan sekolah dansebagainya.

b. Fungsi diagnostik
Apabila alat yang digunakan dalam penilain cukup memenuhi persyaratan. Maka dengan melihat hasilnya, guru akan mengetahui kelemahan siswa. Di samping itu, diketahui pula sebab-sebab kelemahan itu. Jadi dengan mengadakan penilaian, sebenarnya guru mengadakan diagnosis kepada siswa tentang kebaikan dan kelemahannya. Dengan diketahui sebab-sebab kelemahan ini akan lebih mudah dicari cara mengatasinya.

c. Fungsi penempatan
            Sistem baru yang kini banyak dipopulerkan di Negara barat adalah system belajar sendiri. Belajar sendiri dapat dilakukan dengan cara mempelajari sebuah paket belajar, baik itu berbentuk modul maupun paket belajar yang lain. Sebagai alas an dari timbulnya system ini adalah adanya pengakuan yang besar terhadap kemampuan individual. Setiap siswa sejak lahirnya telah membawa bakat sendiri-sendiri sehingga pelajaran akan lebih efektif apabila disesuaikan dengan pembawaan yang ada. Akan tetapi disebabkan karena keterbatasan sarana dan tenaga, pendidikan yang bersifat individual kadang-kadang sukar sekali dilaksanakan. Pendekatan yang lebih bersifat melayani perbedaan kemampuan adalah pengajaran secara kelompok. Untuk dapat menentukan dengan pasti di kelompok mana seorang siswa harus ditempatkan, digunakan suatu penilaian. Sekelompok siswa yang mempunyai hasil penilaian yang sama, akan berada dalam kelompok yang sama.

d. Fungsi pengukur keberhasilan modul
 Fungsi keempat dari evaluasi ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana suatu program berhasil diterapkan. Keberhasilan program ditentukan oleh beberapa factor guru, metode
mengajar, krikulum, sarana, dan system administrasi.

Prinsip evaluasi pendidikan
            Ada satu prinsip umum dan penting dalam kegiatan evaluasi, yaitu adanya triangulasi, atau adanya hubungan erat antara tiga komponen yaitu :
a) Tujuan pembelajaran
b) Kegiatan pembelajaran atau KBM, dan
c) Evaluasi
Evaluasi sendiri memiliki beberapa prinsip dasar yaitu ;
a. Evaluasi bertujuan membantu pemerintah dalam mencapai tujuan pembeljaran
bagi masyrakat                                                       .
b. Evaluasi adalah seni, tidak ada evaluasi yang sempurna, meski dilkukan dengan metode yang berbeda.
c. Pelaku evaluasi atau evaluator tidak memberikan jawaban atas suatu pertanyaan tertentu. Evaluator tidak berwennag untuk memberikan rekomendasi terhadap keberlangsungan sebuah program. Evaluator hanya membantu memberikan alternatif.
d. Penelitian evaluasi adalah tanggung jawab tim bukan perorangan.
e. Evaluator tidak terikat pada satu sekolah demikian pula sebaliknya.
f. evaluasi adalah proses, jika diperlukan revisi maka lakukanlah revisi.
g. Evaluasi memerlukan data yang akurat dan cukup, hingga perlu pengalaman untuk pendalaman metode penggalian informasi
h. Evaluasi akan mntap apabila dilkukan dengan instrumen dan teknik yang  aplicable.
i. Evaluator hendaknya mampu membedakan yang dimaksud dengan evaluasi formatif, evaluasi sumatif dan evaluasi program.
j. Evaluasi memberikan gambaran deskriptif yang jelas mengenai hubungan sebab
akibat, bukan terpaku pada angka soalan tes.
Evaluasi Pendidikan juga harus mengikuti prinsip-prinsip sbb :
1. Prinsip keterpaduan
Harus ada keterpaduan antara tujuan instruksional , metoda pembelajaran, materi pelajaran
2. Prinsip keterlibatan siswa
Harus memperhatikan segi keterlibatan siswa, Karena evaluasi merupakan bagi siswa. Siswa perlu akan informasi mengenai kemajuan dalam program pembelajaran.
3. Prinsip Koherensi
Evaluasi harus berkaitan dengan materi yang sudah disajikan dan sesuai dengan kompetensi yang diharapkan. Sesuai pula dengan alat evaluasi yang digunakan serta cara penyelenggaraannya
4. Prinsip Pedagogis
Evaluasi diterapkan sebagai upaya perbaikan sikap, memberi motivasi , dan sebagai reward ataupun punishment
5. Prinsip Akuntabilitas
Evaluasi pembelajaran sebagai pertanggungjawaban sekolah kepada orang tua, masyarakat dan departemen/dinas terkait.

2.5.    Penilaian Dalam Pendidikan
Penilaian (assessment) adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar peserta didik atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik. Penilaian menjawab pertanyaan tentang sebaik apa hasil atau prestasi belajar seorang peserta didik.Hasil penilaian dapat berupa nilai kualitatif (pernyataan naratif dalam kata-kata) dan nilai kuantitatif (berupa angka). Pengukuran berhubungan dengan proses pencarian atau penentuan nilai kuantitatif tersebut.
Penilaian hasil belajar pada dasarnya adalah mempermasalahkan, bagaimana pengajar (guru) dapat mengetahui hasil pembelajaran yang telah dilakukan. Pengajar harus mengetahui sejauh mana pebelajar (learner) telah mengerti bahan yang telah diajarkan atau sejauh mana tujuan/kompetensi dari kegiatan pembelajaran yang dikelola dapat dicapai. Tingkat pencapaian kompetensi atau tujuan instruksional dari kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan itu dapat dinyatakan dengan nilai.

2.6     Pengukuran dalam pendidikan
Pengukuran adalah penentuan besaran, dimensi, atau kapasitas, biasanya terhadap suatu standar atau satuan pengukuran. Pengukuran tidak hanya terbatas pada kuantitas fisik, tetapi juga dapat diperluas untuk mengukur hampir semua benda yang bisa dibayangkan, seperti tingkat ketidak pastian atau kepercayaan
Pengukuran adalah proses pemberian angka-angka atau label kepada unit analisis untuk merepresentasikan atribut-atribut konsep. Proses ini seharusnya cukup dimengerti orang walau misalnya definisinya tidak dimengerti. Hal ini karena antara lain kita sering kali melakukan pengukuran.
Menurut Cangelosi (1995) yang dimaksud dengan pengukuran (Measurement) adalah suatu proses pengumpulan data melalui pengamatan empiris untuk mengumpulkan informasi yang relevan dengan tujuan yang telah ditentukan. Dalam hal ini guru menaksir prestasi siswa dengan membaca atau mengamati apa saja yang dilakukan siswa, mengamati kinerja mereka, mendengar apa yang mereka katakan, dan menggunakan indera mereka seperti melihat, mendengar, menyentuh, mencium, dan merasakan. Menurut Zainul dan Nasution (2001) pengukuran memiliki dua karakteristik utama yaitu: 1) penggunaan angka atau skala tertentu; 2) menurut suatu aturan atau formula tertentu.
Measurement (pengukuran) merupakan proses yang mendeskripsikan performance siswa dengan menggunakan suatu skala kuantitatif (system angka) sedemikian rupa sehingga sifat kualitatif dari performance siswa tersebut dinyatakan dengan angka-angka. Pernyataan tersebut diperkuat dengan pendapat yang menyatakan bahwa pengukuran merupakan pemberian angka terhadap suatu atribut atau karakter tertentu yang dimiliki oleh seseorang, atau suatu obyek tertentu yang mengacu pada aturan dan formulasi yang jelas. Aturan atau formulasi tersebut harus disepakati secara umum oleh para ahli. Dengan demikian, pengukuran dalam bidang pendidikan berarti mengukur atribut atau karakteristik peserta didik tertentu. Dalam hal ini yang diukur bukan peserta didik tersebut, akan tetapi karakteristik atau atributnya. Senada dengan pendapat tersebut, Secara lebih ringkas, Arikunto dan Jabar (2004) menyatakan pengertian pengukuran (measurement) sebagai kegiatan membandingkan suatu hal dengan satuan ukuran tertentu sehingga sifatnya menjadi kuantitatif.

2.7     Perbedaan Evaluasi, Penilaian dan Pengukuran
Berdasarkan pengertian di atas dapat kita simpulkan bahwa penilaian adalah suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar baik yang menggunakan tes maupun nontes. Pengukuran adalah membandingkan hasil tes dengan standar yang ditetapkan. Pengukuran bersifat kuantitatif.
Sedangkan menilai adalah kegiatan mengukur dan mengadakan estimasi terhadap hasil pengukuran atau membanding-bandingkan dan tidak sampai ke taraf pengambilankeputusan.Penilaian bersifat kualitatif.
Agar lebih jelas perbedaannya maka perlu dispesifikasi lagi untuk pengertian masing-masing :
  • Evaluasi pembelajaran adalah suatu proses atau kegiatan untuk menentukan nilai, kriteria-judgment atau tindakan dalam pembelajaran.
  • Penilaian dalam pembelajaran adalah suatu usaha untuk mendapatkan berbagai informasi secara berkala, berkesinambungan, dan menyeluruh tentang proses dan hasil dari pertumbuhan dan perkembangan yang telah dicapai oleh anak didik melalui program kegiatan belajar.


BAB III
KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas dapat kita simpulkan pengertian pengukuran, penilaian, dan evaluasi sebagai berikut :
  • Pengukuran adalah kegiatan membandingkan sesuatu dengan ukuran tertentu dan bersifat kuantitatif.
  • Penilaian adalah kegiatan mengambil keputusan untuk menentukan sesuatu berdasarkan kriteria baik buruk dan bersifat kualitatif. Sedangkan
  • Evaluasi adalah kegiatan yang meliputi pengukuran dan penilaian
Berdasarkan pengertian di atas dapat kita simpulkan bahwa penilaian adalah suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar baik yang menggunakan tes maupun nontes. Pengukuran adalah membandingkan hasil tes dengan standar yang ditetapkan. Pengukuran bersifat kuantitatif. Sedangkan menilai adalah kegiatan mengukur dan mengadakan estimasi terhadap hasil pengukuran atau membanding-bandingkan dan tidak sampai ke taraf pengambilan keputusan.Penilaian bersifat kualitatif.
Agar lebih jelas perbedaannya maka perlu dispesifikasi lagi untuk pengertian masing-masing :
  • Evaluasi pembelajaran adalah suatu proses atau kegiatan untuk menentukan nilai, kriteria-judgment atau tindakan dalam pembelajaran.
  • Penilaian dalam pembelajaran adalah suatu usaha untuk mendapatkan berbagai informasi secara berkala, berkesinambungan, dan menyeluruh tentang proses dan hasil dari pertumbuhan dan perkembangan yang telah dicapai oleh anak didik melalui program kegiatan belajar.




DAFTAR PUSTAKA
Alwasilah, et al. (1996). Glossary of educational Assessment Term. Jakarta: Ministry of Education and Culture.
Arikunto, S & Jabar. 2004. Evaluasi Program Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
Calongesi, J.S. 1995. Merancang Tes untuk Menilai Prestasi Siswa. Bandung : ITB
Kumano, Y. 2001. Authentic Assessment and Portfolio Assessment-Its Theory and Practice. Japan: Shizuoka University.
Lehmann, H. (1990). The Systems Approach to Education. Special Presentation Conveyed in The International Seminar on Educational Innovation and Technology Manila. Innotech Publications-Vol 20 No. 05.
Stiggins, R.J. (1994). Student-Centered Classroom Assessment. New York : Macmillan College Publishing Company
Tayibnapis, F.Y. (2000). Evaluasi Program. Jakarta: Rineka Cipta
Zainul & Nasution. (2001). Penilaian Hasil belajar. Jakarta: Dirjen Dikti.



BULAN SABIT DI GURUN GOBI

A.    Sejarah yang hilang
Mongol mulai muncul pada akhir abad XII dan awal abad XIII M. hal ini terungkap dalam buku Genghis khan.Mongol pada mulanya merupakan entititas masyarakat yang mendiami hutan Siberia dan luar Mongolia. Mereka menempati wilayah diantara gurun pasir gobi dan danau Baikal. Bangsa Mongolia hidup sebagai pengembara( nomaden) dan tinggal di perkemahan. Pada tahun 1206dalam quriltay (majelis atau sidang para kepalasuku bangsa mongol untuk memutuskan perkara militer dan lainnya) dihasilkan kesepakatan untuk mengangkat temuchin, dengan gelar chengis Khan sebagai pemimpin tertinggi mongol.
Dalam masa kepemimpinanya, Chengis Khan menyempurnakan moral masyarakat dengan undang-undang social yang dibuatnya yakni ulang yassaq/ulanyasa/yasaq/yasa dan disebut yasaq. Pada perkembangan berikutnya  mereka masuk islam dan menaklukan rusia, polandia dan sekitarnya. Generasi ke V dari chengis khan mencapai masa kejayaan nya. Chengis khan menunjuk chaghtai untuk menguasai system pemerintahan, peraturan Negara dan strategi peperangan serta pelestarian adat istiadat Persia. Pada kekuasaan chaghtai mengalami kemunduran, karna sering terjadi pergantian kekuasaan yaitu, sebanyak 17 kali dalm wktu singkat.Dalam mengkaji peristiwa yang telah lalu teori yang bisa digunakan diantaranya, teori evolusi, teori challenge and response, dan teori tri-kon.
B.     Awal Islamisasi dikawasan Gurun Gobi
Gurun gobi adalah padang pasir terluas di asia yang membentang dari asia tengah sampai Siberia utara, Tibet selatan dan mancuri barat serta Turkistan timur. Danau Baikal merupakan situs warisan dunia UNESCO yang terletak diselatan Siberia, danau yang paling indah diantara danau-danau lainnya. Telah disebut gurun gobi dan danau Baikal identik dengan kekaisaran mongol. Danau ini popular dengan istilah “si gadis perawan Siberia”.Bangsa pertama yang menemukan danau ini adalah bangsa mongol tepatnya pada abad XIII M dengan pemimpin berjuluk Chengis Khan. Awal islamisasi dikawasan gurun gobi, pada masa Al-Khulafa al-rasyidun (632-660), masa dinasti umayah di damaskus (660-750 M), masa dinasti Abbasiyah (750-1258 M), dinasti Tahariah (820-872M), Dinasti saffariah (867-908 M), Dinasti zaidiah (862-964 M), Dinasti samaniah (874-1000 M), Dinasti Buwaihiah (945-1055 M), Dinasti Ghazni (962-1186 M), dinasti Ghuri (1173-1205 M), Saljuk (1055-1194 M), Dinasti Khawarizam (1077-1231 M).
C.    Sejarah  Bangsa Mongol
Jatuhnya kota Baghdad pada tahun 1258 M ke tangan Bangsa Mongol bukan saja mengakhiri Khalifah Abbasiyah disana, tetapi juga merupakan, awal dari masa kemunduran politik dan peradaban Islam. Bangsa Mongol berasal dari daerah pengunungan Mongolia, yang membental dari Asia Tengah sampai ke Serebia Utara, Tibet Selatan dan Manchuria Barat serta Turkistan Timur. Nenek moyang mereka bernama Alanja Khan, yang mempunyai dua putra kembar, Tatar dan Mongol. Dua putra tersebut melahirkan dua suku bangsa besar, Mongol dan Tatar. Mongol mempunyai anak yang bernama Ilkhan, yang melahirkan keturunan pimpinan bangsa Mongol di kemudian hari.

Manusia Mongol hidup sebagai pengembara dan tinggal di perkemahan. Mereka hidup sederhana dengan memburu binatang, mengembala domba, dan memakai kulit binatang untuk menutupi auratnya. Sebagian kecil mereka menganut cabang Nestoria dan Sammaniah. Pada umumnya Bangsa Mongol menyembah matahari saat terbit, makan daging semua binatang,  dan juga sesama manusia. Mereka hidup dengan keadaan kotor dan tidak bersih. Kemunculan Chengis Khan dalam Sejarah perkembangan peradaban dunia mampu menggetarkan peradaban bangsa di belahan dunia lain.

D.    Dinasti Ilkhan (1256-1363)
Dinasti ilkhan adalah salah satu cabang dari dinasti mongol yang didirikan Hulagu khan. Ilkhan dalam bahasa mongol berarti kepala suku. Hulagu berkuasa dipersia dan sekitarnya sebagai Ilkhan (1256-1267) di masa mongu dan kubilai khan. Ia merupakan penghancur pusat peradaban islam, baghdad, setelah melenyapkan teror Assasin di alamut. Kondisi kehidupan beragama pada masa Hulagu Khan penuh toleransi. Hulagu Khan bersimpati dan membantu  orang-orang Kristen. Hal ini diduga akibat pengaruh istrinya yang beragam kristen, Deguz/dekuz Khatun. kemudian dinasti Ilkhan menguasai wilayah persia dan sekitarnya selama lebih 100 tahun (1256-1363). Setelah tujuh tahun kehancuran baghdad Hulagu khan meninggal dunia padah tahun 1265 M. Wilayah yang berhasil dikuasainya meliputi Iran, Iraq, Kaukasus termasuk Azarbayjan, kurdistan dan anatoli. Hulagu Khan digantikan oleh putranya, Abaga yang dinobatkan pada tanggal 19 juni 1265 M.

E.     Dinasti Chaghtai (1227-1359 M)
Sepeninggal Chengis, Chagtai (1227-1241) yang berkuasa sebagai kepala wilayah di bawah Khan Agung, di sekitar Transoxiana. Chagtai membenci aturan islam dan memusuhi umat islam. Oleh karena itu umat islam pun tidak menyukainya seperti pada masa ayahnya dan kemenakannya, Hulagu. Meski Chagtai membenci islam dan pemeluknya, namun ia memiliki sorang menteri (islam) yang berasal dari Utara. Atas nama Chagtai, dinasti yang berkembang dan dikendalikan oleh keturunannya, disebut dinasti Chagtai. Keturunannya, yang bernama Olghu Khan secara formal menentang kedaulatan Khan Agung dan mendirikan dinasti Chagtai di Asia Tengah. Hampir selama 150 tahun, Chagtai berkuasa di Transoxiana sebagai basis daerah politik mereka.

Sepeninggal Chagtai, Kara Hulagu berkuasa. Namun ia kemudian dipecat oleh Khan Agung dan di            gantikan putra kelima Chagtai, Ishu Mongki. Ishu Mongki juga dipecat karena ia terlibat dalam menggulingkan Khan Agung. Kemudian Kara diangkat lagi menjadi penguasa Transoxiana pada tahun 1251 M. Pada tahun itu pula, secara mendadak meninggal dunia. Pada tahun 1282, anaknya Buraq, Dua Khan naik tahta. Ia merupakan seorang pejuang yang tangguh yang dibuktikan dengan kemenangan telak dalam berbagai peperangan. Sepeninggal Dua Khan, para penguasa Chagtai  adalh keturunannya. Tiga putera yang memimpin dinasti ini; Ishen Buka (1309-1318 M), Khan Kabak (1318-1326 M), dan Tarrmashirin (1226-1334 M). Namun yang paling terkenal di antara ketiganya adalah Tarmashirin. Setelah Tarmashirin Masuk Islam ia berganti nama menjadi Alauddin. Ia dilengserkan oleh kemenakannya yaitu Bujan. Setelah itu, Chagtai oleh seorang pemimpin yang hanya bagaikan boneka, yaitu Tura Khan.

F.     Dinasti Tumuriah (1361-1506 M)
Harold Lamb menyebut bahwa Timur adalah pemimpin bangsa tartar. Helda Hukman, Tamburlaine the congueror : tambulaine disebut sebagai orang Chaghtai-Mongol berdasarkan Timur Leng resmi menjadi penguasa muslim(!370) yang berdaulat. Ia mengumumkan dirinya sebagai seorang dari dinasti Chaghtai pelindung dan pelanjut dinasti ini. Politik suku nomaden kepada timur sebagai pemimpin mereka yang diwujudkan dengan dua langkah. Pertama Pemimpin dinasti tumuriah adalah Timur. Timur sendiri mempunyai kepemimpinan yang dermawan dan sifat mulia yang membuat suku-suku nomaden bertantang untuk mendapat keberuntungan dengan mengabdi kepadanya. Langkah kedua adalah menyelesaikan persoalan antar musuh dengan cara menciptakan musuh bersama. Setelah suku-suku tercerai berai tersebut dapat disatukan kembali, maka dengan otoritas yang dimiliknya timur kemudian mempersiapkan tentara untuk menghadapi pasukan pemerintah yang dibantu oleh pasukan pangeran husein, cucu Amir Kazag Khan. Peperangan pun pecah dan berakhir kemenangan dipihak Timur Leng. Pada saat ayah timur meninggal karna keributan kekuasaan di Transoxiana dalam tubuh dinasti chaghtai disaat itu juga kakeknya melarikan diri karna kalah dalm peperangan itu.

Kemudian timur yang dalam keadaan sulit, berkelana tanpa tujuan dan bertemu amir husein, ipar timur yang juga mengalami kekalahan yang sama dari taimur khan. Dan disaat itu mereka ditangkap oleh penguasa khiva di transoxiana dan berhasil melarikan diri tetapi kemudian ditangkap oleh tentara turki. Diam diam timur lolos dari tahanan.  Banyak sekali peperangan yang terjadi di dinasti timuriah salah satunya timur menyerang anatoli dengan 250.000 tentara dan mengusir orang-orang turki usmani. Ekspedisi terakhir timur ke china pada musim saju pada usia tua. Cuaca buruk mengakibatkan hampir semua tentara mati dalam ekspedisi ini. Ia letih dan akhirnya jatuh sakit di tepi sungai jaxartes, otra sekitar 400 KM dari Sir Dari. Timur meninggal dunia pada tanggal 18 februari 1406 M dalam perjalan untuk menyerang china.

G.    Dinasti Golden horde (1256-1502 M)
Pada masa Khan Agung Oghtay, putra Chengis Khan, terjadi penaklukan (1236-1237) besar-besaran terhadap Lembah Sungai Volga dan Siberia. Penaklukan ini dipimpin oleh Batu, anak mendiang Jochi (putra Chengis). Batulah yang kemudian merintis Dinasti Kipcak. Pada masa saudara Batu, yaitu Berke, dinasti ini berubah atau melahirkan Dinasti Golden Hordé (1227-1502 M). para penguasa Golden Hordé. Dalam pertemuan perdana/utama setelah salat Jumat dengan rakyat, terutama yang muslim, duduk di pavilion dengan segala perabotannya berwarna emas yang terkenal dengan The Golden Pavilion.
Ada juga yang berpendapat bahwa bangsa Mongol yang menetap di tempat yang padang rumputnya subur oleh aliran Sungai Volga dan anak-anak sungainya (Itli, Akhluba, dan sebagainya) itu dikenal dengan sebutan Golden Hordé. Faktor utama penghancuran dan penghapusan pusat politik dan peradaban Islam, Baghdad, selain konflik dan politik multi-dimensional adalah gangguan kelompok Asasin yang didirikan oleh Hasan ibn Sabbah pada tahun 1256 M di pegunungan Alamut. Di tengah kekacauan istana, Duke mengambil keuntungan dan membatalkan aliansinya dengan Golden Hordé yang telah terjalin sejak Uzbeg Khan. Ia juga menolak membayar pajak dan upeti kepada Golden Hordé. Pada tahun 1378 Mamai memimpin ekspedisi ke Moscow. Jika demikian, Islam dapat memainkan peranan yang signifikan dan kembali jaya seperti pada era Golden Hordé di bawah pimpinan Berke dan Uzbegh Khan, saat Islam dijadikan sebagai agama resmi negara walaupun umat Islam waktu itu hanya sekitar 10%. Hal ini meningkat tajam pada era Uzbegh Khan dan pada masanya Mongol Golden Hordé telah bebas dari non-muslim.
H.    Hasil peradabatan Dinasti-Dinasti Mongol Islam
Pada masa Pra-Islam sejak muncul sampai hancur, mongol identik dengan teror, kerusakan pembunuhan massal, penghancuran dan pembakaran yang tidak ada duanya. Mereka membumihanguskan banyak negara yang melenyapkan kekuatan bangsa-bangsa yang lemah selamanya dari peta dunia, baik muslim maupun non muslim. Telah disebut bahwa Chengis Khan, misalnya meratakan 21 ribu kota negara. Sejarawan eropa menilainya negatif dan menganggap bahwa Chengis Khan adalah laknat Tuhan dimuka bumi ini. Namun sejarawan modern justru menilai sebaliknya. Mereka berpendapat bahwa didalam kepemimpinan Chengis Khan tidak hanya berdampak  negatif saja tetapi memiliki dampak positif nya.

Pasca masuknya Islam para penguasa Mongol ini juga memberi aroma baru bagi peradaban Islam, seperti yang tidak asing lagi Mubarak Shah penguasa Islam pertama Mongol ini, dan dia mencetak mata uang perak dengan nama “Kabaki”. Kemudian yang tak kalah menariknya Timur Lang, seorang yang mempunyai cita-cita untuk kekuasaan dan harta, namun dibalik kekuasaan dan harta rampasan yang dimilkinya dihabiskan untuk mensejahterakan, dan membangun kota-kota yang indah serta kegiatan intelektual. Perlu dicatat, dia memiliki sifat netral dan jujur, kaya-miskin semua dipandang sama (tidak pandang bulu). Perkembangan selanjutnya, masa Uzbeg Khan (Golden Horde), penguasa yang very staunch, administrasi kenegaraan diterapkan sesuai dengan Shari’ah Islam dan ia menggantikan Yassa dengan hukum Islam. Pada masa dinasti Ilkhan yang berpengaruh ialah Ghazan Khan, pada masa itu telah memberikan sumbangsih yang sangat berharga bagi kemujuan Islam. Oleh karena itu ia menganggap dirinya sebagai penguasa berkat Tuhan (Ruler by the Grace of God).  Demikian beberapa hasil peradaban yang pernah ditorehkan oleh dinasti-dinasti Islam dikalangan Mongol.